Jumat, 01 Juli 2011

UNSUR INTRINSIK DAN UNSUR EKSTRINSIK KARYA SASTRA


Karya sastra disusun oleh dua unsur yang menyusunnya. Dua unsur yang dimaksud iaslah unsur intrinsic dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsic ialah unsur yang menyusun sebuah karya sastra dari dalam yang mewujudkan struktur suatu karya sastra, seperti : tema tokoh dan penokohan, alur dan pengeluaran, latae dan pelataran, dan pusat pengisahan. Sedangkan unsur ekstinsik ialah unsur yang menyusun sebuah karya sastra dari luasnya menyangkut aspeksosiologi, psikologi, dan lain-lain.

5.1      Unsur Intrinsik
a.       Tema dan amanat

Tema ialah persoalan yang menduduki tempat utama dalam karya sastra. Tema mayor ialah tema yang sangat menonjol dan menjadi persoalan. Tema minor ialah tema yang tidak menonjol.
Amanat ialah pemecahan yang diberikan oleh pengarang bagi persoalan di dalam karya sastra. Amanat biasa disebut makna. Makna dibedakan menjassdi makna niatan dan makna muatan. Makna niatan ialah maknayang diniatkan oleh pengarang bagi jkarya sastra yang ditulisnya. Makna muatan ialah makna yang termuat dalam karya sastra tersebut.


b.      Tokoh dan penokohan
Tokoh ialah pelaku dalam karya sastra. Dalam karya sestra biasanya ada beberapa tokoh, namun biasnya hanya ada satu tokoh utama. Tokoh utama ialah tokoh yang sangat penting dalam mengambil peranan dalam karya sastra. Dua jenis tokoh adalah tokoh datar (flash character) dan tokohbulat (round character).
Tokoh datar ialah tokoh yang hanya menunjukka satu segi, misalnya baik saja atau buruk saja. Sejak awal sampaiu akhir cerita tokoh yang jahat akan tetap jahat. Tokoh bulat adalah tokoh yang menunjukkan berbagai segi baik buruknya, kelebihan dan kelemahannya. Jadi ada perkembangan yang terjadi pada tokoh ini. Dari segi kejiwaan dikenal ada tokoh introvert dan ekstrovent. Tokoh introvert ialah pribadi tokoh tersebut yang ditentukan oleh ketidaksadarannya. Tokoh ekstrovert ialag pribadi tokoh tersebut yang ditentukan oleh kesadarannya. Dalam karya sastra dikenal pula tokoh protagonist dan antagonis. Protagonisialah tokoh yang disukai pembaca atau penikmat sastra karena sifat-sifatnya. Antagonis ialah tokoh yang disukai pembaca atau penikmat sastra karena sifat-difatnya.
Penokohan atau perwatakan ialah teknik atau cara-cara menampilkan tokoh. Ada beberapa cara menampilkan tokoh. Cara analitik, ialah cara cara penampilan tokoh secara langsung malalui uraian pengarang. Jadi pengarang menguraikan cirri-ciri tokoh tersebut secara langsung. Cara dramatic, ialah cara mnampilkan tokoh tidak secara langsung tetapi melalui gambaran ucapan, perbuatan, dan komentar atau penilaian pelaku atau tokoh dalam suatu ceita. Dialog ialah cakapan antara seorang tokoh dengan banyak tokoh. Dualog ialah cakapan antara dua tokoh saja. Monolog ialah cakapan batin terhadap kejadian lampau dan yang sedang terjadi. Solilokui ialah bentuk cakapan batin terhadap peristiwa yang akakn terjadi.
c.       Alur dan Pengaluran
Alur disebut juga plot, yaitu rangkaian peristiwa yang memiliki hubungan sebab akibat sehingga menjadi satu kesatuan yang padu bulat, dan utuh. Alur terdiri atas beberapa bagian:
1)      Awal, yaitu pengarang mulai memperkenalkan tokoh-tokohnya.
2)      Tikaian, yaitu terjadi konflik di antara tokoh-tokoh pelaku.
3)      Gawatan atau rumitan, yaitu konflik tokoh-tokoh semakin seru.
4)      Puncak, yaitu saat puncak konflik di antara tokoh-tokhnya.
5)      Leraian, yaitu saat peristiwa konflik semakin reda dan perkembangan alur mulai terungkap.
6)      Akhir, yaitu seluruh peristiwa atau konflik telah terselesaikan.
Pengeluaran, yaitu teknik atau cara-cara menampilkan alur. Menurut kualitasnya, pengeluaran dibedakan menjadi alur erat dan alur longgar. Alur erat ialah alur yang tidak memungkinkan adanya pencabangan cerita. Alur longgar ialah alur yang memungkinkan adanya pencabangan cerita. Menurut kualitasnya, pengeluaran dibedakan menjadi alur tunggal dan alur ganda. Alur tunggal ialah alur yang hanya satu dalam karya sastra. Alur ganda ialah alur yang lebih dari satu dalam karya sastra. Dari segi urutan waktu, pengeluaran dibedakan kedalam alur lurus dan tidak lurus. Alur lurus ialah alur yang melukiskan peristiwa-peristiwa berurutan dari awal sampai akhir cerita. Alur tidak lurus ialah alur yang melukiskan tidak urut dari awal sampai akhir cerita. Alur tidak lurus bias menggunakan gerak balit (backtracking), sorot balik (fashback), atau campuran keduanya.
d.      Latar dan Pelataran
Latar disebut juga setting, yaitu tempat atau waktu terjadinya peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam sebuah karya sastra. Latar atau setting dibedakan menjadi atar material dan social. Latar material ialah lukisan latar belakang alam atau lingkungan di mana tokoh tersebut berada. Latar sosial, ialah lukjisan tatakrama tingkah laku, adapt, dan pandangan hidup. Sedangkan pelataran ialah teknik atau cara-cara menampilkan latar.
e.       Pusat Pengisahan
Pusat pengisahan ialah dari mana suatu cerita dikisahkan oleh pencerita. Pencerita di sini adalah pribadi yang diciptakan pengarang untuk menyampikan cerita. Paling tidak ada dua pusat pengisahan yaitu pencerita sebagai orang pertama dan pencerita sebagai orang ketiga. Sebagai orang pertama, pencerita duduk dan terlibat dalam cerita tersebut, biasanya sebagai aku dalam tokoh cerita. Sebagai orang ketiga , pencerita tidak terlibat dalam cerita tersebut tetapi ia duduk sebagai seorang pengamat atau dalang yang serba tahu.

f.       Karakter
Tokoh dalam cerita. Karakter dapat berupa manusia, tumbuhan maupun benda. Karakter dapat dibagi menjadi:
1.      Karakter utama: tokoh yang membawakan tema dan memegang banyak peranan dalam cerita.
2.      Karakter pembantu: tokoh yang mendamping karakter utama.
3.      Protagonis: karakter/tokoh yang mengangkat tema.
4.      Antagonis: karakter/tokoh yang memberi konflik pada tema dan biasanya berlawanan dengan karakter protagonis.m(ingat, tokoh antagonis belum tentu jahat)
5.      Karakter statis (flat/ static character): karakter yang tidak mengalami perubahan kepibadian atau cara pandang dari awal samp[ai akhir cerita.
6.      Karakter dinamis (Round/dynamic character): kasrakter yang mengalami perubahan kepribadian dan cara pandang . karakter ini biasanya dibuat semirip mungkin dengan manusia sesungguhnya, terdiri atas sifat dan kepribadian yang kompleks.
Catatan: karakter pembantu biasanya aadalah karaker statis karena tidak digambarkan secara detail oeh penulis sehingga peruybahan kepibadian dan cara pandangnya tidak pernah terlihat secara jelas.


g.      Karakterisasi
Cara penulis menggamnarkan karakter. Ada banyak cara untuk menggali penggambaran karakter, secara garis besar karakterisasi ditinjau melalui dua cara yaitu secara naratif dan dramatic. Tekniknaratif berarti karakterisasi dari tokoh dituliskan langsung oleh penulis atau narrator. Teknik daramatik dipakai ketika karakterisasi torkoh terlihat dari antara lain: penampilan fisik karakter, cara berpakaian, kata-kata yang diucapkan, dialognya dengan karakter lain, pendapat kerakter lain, dll.
h.      Konflik
Konfklik adalah pergumulan yang dialami olh karakter dalam serita dan. Konflik ini merupakan inti dari sebuah karya sastra yang pada akhirnya memberntuk plot. Ada empat macam konflik, yang dibagi dalam dua garis besar:
Konflik internal
Individu-diri sendiri: konflik ini tidak melibatkan orang lain, konflik ini ditandai dengan gejolak yang timbul dalam diri sendiri mengenai beberapa hal seperti nilai-nilai. Kekuatan karakter akan terlihat dalam usahanya menghadapi gejolak tersebut.
Konflik eksternal
Individu-individu:  onflik yang dialami dedeorang dengan orang lain.
Individu-alam: konflik yang dialami individu dengan alam. Konflik ini menggambarkan perjuangan individu dalam usahanya untuk mempertahankan diri dalam kebesaran alam.
Individu­-Lingkungan/masyarakat: konflik yang dialami individu dengan masyarakat atau lingkungan hidupnya.
i.        Symbol
Symbol digunakan untuk mewakili sesuatu yang abstrak. Contoh: burung gagak (kematian).
j.        Sudut Pandang
Sudut pandang yang dipilih penulus untuk menyampaikan ceritanya.
1.      Orang pertama: penulis berlaku sebagai karakter utama cerita, iini diutandai dengan penggunaan kata “aku”. Penggunaan teknik ini menyebabkan pembaca tidak mengetahui segala ha yang tidak diungkapkan oleh sang narrator. Keuntungan dari teknik ini dalah pembaca merasa menjadi bagian dari cerita.
2.      Orang kedua: teknik yang banyak menggunakan kata ‘kamu’ atau ‘anda’. Teknik ini jarang sipakai karena memaksa pembaca untuk mampu berperan serta dalam cerita.
3.      Orang ketiga: cerita dikisahkan mnggunakan kata ganti orang ketiga, seperti:mereka dan dia.

k.      Teknik Penggunaan Bahasa
Dalam menuangkan idenya, penulis biasa memilih kata-kata yang dipakainya sedemikian rupa sehingga segala pesannya sampai kepada pemabaca. Selain itu, teknik penggunaan bahasa yang baik juga membuat tuisan menjadi indah dan mudah dikenang. Teknik berbahasa ini misalnya menggunakan majas, idiom, dan peribahasa.

5.2      Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik sebuah karya sasta dari luarnya menyangkut aspek sosiologi, psikologi, dan lain-lain. Tidak ada sebuah karya sastra yang tumbuh otonom, tetapi selalu pastibewrhubungan secara ekstrinsik dengan luar sastra, dengan sejumlah faktor kemasyarakatan seperti tradisi sastra, kebudayaan llingkungan, pembaca sastra, serta kejiwaan mereka. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa unsur ekstrinsik ialah unsur yang membentuk karya sastra dari luar sastra itu sendiri. Untuk melakukan pendekatan terhadap unsur ekstrinsik , diperlukan bantuan ilmu-ilmu kerabat seperti sosiologi, psikologi,filsafat, dan lain-lain.
Menurut Tuhusetya (2007), sebuah karya sastra yang baik mustahil dapat menghindarkan dari dimensi kemanusiaan. Kejadia-kejadian yang terjadi dalam masyarakat pada umumnyadijadikan seumbner ilham, bagi para sastrawan untuk membuat suatu karya sastra.
Seorang sastrawan mamiliki penalaran tinggi, mata batin yang tajam, dan memiliki daya intuitif yang peka. Kelebihan-kelebihan itu jarang sekali ditemukan pada orang awam. Dalam hal ini, karya sastra yang lahir pun akan diwarnai oleh latar belakang sosiokultural yang melingkupi kehidupan sastrawannya.
Suatu keabsahan jika dalam karya sastra terdapat unsur-unsur ekstrinsik yang turut mewarnai karya sastra. Unsur-unsur ekstrinsik yang dimaksud seperti filsafat, psikologi, religi gagasan, pendapat, sikap, keyakinan, dan visi lain dari pengarang dalam memandang dunia. Karena unsur-unsur ekstrinsik itulayh yang menyebabkan karya sastra tidak mung terhindar dari amanat, tendensi, unsur mendidik, dan fatwa tentang makna kearifan hidup yang ingin disampaikan kepada pembaca.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar